Beberapa hari lalu ada pertanyaan via email dari salah seorang teman kita yang kesulitan membuat keputusan sehubungan dengan perbedaan kebudayaan antara keluarganya dengan keluarga pasangannya. Berikut pertanyaannya:

“Halo, namaku Jessica, aku mau tanya, kalau sangjitan itu dihapus pantang ga ya buat orang chinese?
Aku asalnya dari medan, jadi masih ada adat sangjitan, tapi dari pihak co karena mereka lama di blitar, adat sudah tidak tau. Dan mereka bilang tidak ada yg namanya hantaran dsb lagi. Gimana aku bilangin ke pihak co kalau hantaran ini adat, n aku ingin itu tetap ada? secara adat mereka uda beda. Tapi yang seperti begini biasanya ikut adat cewe kan? Kalau pun ga, ada yg bisa disederhanain utk uang susu, hantaran, dsb? Thanx ya, aku sudah bingung jadi penengah antara keluarga aku dengan keluarga dia…”

Jawaban Miracle:

Hallo Jessica.

Perbedaan kebudayaan seperti ini memang sering terjadi dan hal ini menjadi issue yang cukup menyulitkan, terutama bagi pihak keluarga yang masih memegang adat. Dan kamu benar, pada umumnya sangjit ini tergantung pada keluarga wanita. Alasannya cukup sederhana: keluarga pria hendak mengambil kamu untuk masuk ke dalam keluarganya sehingga bagi yang meminta (keluarga pria) sebaiknya lebih menghormati yang dimintai (keluarga wanita). Bisa dibilang “ini lho syaratnya untuk bawa saya keluar dari keluarga saya dan masuk ke keluarga kamu…” (hahaha…).

Bila upacara sangjit atau sangjitan dihapuskan sebetulnya tidak ada masalah asalkan kedua pihak keluarga tidak ada yang keberatan. Tetapi tidak ada salahnya dilakukan. Bukankah menghormati itu tidak pernah salah? (Untuk informasi tambahan silahkan baca artikel definisi sangjit dan Sangjit School).

Berhubung keluarga kamu ingin agar sangjit tetap diterapkan sementara keluarga pasangan mu tidak terbiasa dengan adat itu, berikut tips dari Miracle untuk kondisi yang sedang kamu alami:

  1. Apakah pasangan kamu setuju dengan adat yang kamu pegang? Kalau dia tidak setuju maka semakin sulit buat kamu untuk meyakinkan keluarga pasangan kamu.
  2. Pastikan bahwa keluarga pasangan kamu itu hanya sekedar tidak terbiasa dengan adat sangjitan, bukan menentang. Jadi, kalau mereka sekedar tidak terbiasa saja maka masalah yang kamu alami sebetulnya tidak seburuk yang kamu kira.
  3. Sampaikan keinginan keluarga kamu ke pasangan kamu. Jelaskan bahwa kebudayaan keluarga kamu ini begini lho…
  4. Setelah pasangan kamu sudah mengerti arti upacara sangjit atau sangjitan ini, susun strategi untuk mengkomunikasikan informasi itu kepada keluarganya. Biarkan dia saja yang menyampaikan, kamu jangan ikut-ikutan. Waktu menyampaikan, jangan sampai kalimatnya ‘berintonasi’ seolah-olah itu adalah permintaan dari keluarga kamu. Sebisa mungkin jangan sampai terkesan seperti itu dulu pada tahap ini.
  5. Setelah informasi disampaikan, kami yakin keluarga pasangan kamu tidak akan keberatan untuk mengikuti kebudayaan kamu. Toh mereka juga hendak membangun hubungan yang baik antara dua keluarga. Ia kan?

Yang terpenting adalah menyampaikan dengan cara yang tidak memaksa. Perlahan saja dulu. Coba kamu masukan kata-kata ini dalam kalimat-kalimat mu:

  1. Biasanya dalam tradisi chinese…
  2. Keluarga Jessica masih menerapkan adat sangjit. Misalnya kakaknya, atau sepupunya…

Akan lebih baik kalau dari pihak keluarga pasangan kamu ada orang yang sederajat dengan si calon mertua — misalnya: adiknya, kakaknya, tantenya, atau bahkan teman-temannya — yang dapat membantu untuk menjelaskan adat sangjitan ini. Biasanya suara mereka akan lebih mudah diterima.

Kalau tips-tips diatas dan cara-cara lain tidak bekerja, daripada kamu memaksa pihak keluarga pasanganmu, mungkin ada baiknya kalau kamu mengalah saja. Mengalah lebih baik daripada bila kamu mendapatkan upacara sangjit yang kamu mau tetapi berakhir dengan hubungan antar keluarga yang kurang harmonis.

Semoga tips dari kami bisa membantu,

–Miracle